Memoar

 Aku menulis diatas kasur yang sudah menemani tahun-tahun belajarku, sejak 5 tahun lalu. Kasur berwarna biru yang telah menjadi saksi bisu atas perjalanan ku menuntut ilmu. Juga bantal kecil ini. Bantal mungil, semungil saat aku pertama kali tidur disini.


Aku yang berusia tiga belas, mulai mempelajari ilmu agama juga ilmu kehidupan. Dengan postur tubuh kurus, pendek kecil dan wajah menggemaskan. Juga tidak lupa wajah riang nan ceria yang sudah menjadi karakter belasan tahun lamanya.


Hingga masa berpilin. Terus berganti dan berubah. Ada jutaan kisah dan cerita. Ribuan tangis dan juga tawa. Hingga ada yang datang dan pergi. Satu-persatu bangunan yang dulunya hanya pondasi, mulai meninggi. Menjadi bangunan baru. Pun begitu, aku akan ingat selalu. Tempat, orang, waktu dan rasa yang aku saksikan sendiri ditempat ini.


Takdir membawa aku pada titik ini. Titik yang mengingatkanku bahwa lima tahun hidup di tempat menimba ilmu ini memberi banyak arti dan memori. Memberi peringatan bahwa aku tak sekecil dulu lagi. 

Kini ku tatap satu persatu tiap senti bangunan kotak ini. Mengingatkan kembali ribuan memori yang terpatri dalan ingatan ini.


Kakak kelas, adik kelas, teman sekelasku. Juga guru-guru, bocil bocil, kucing, dan apapun yang pernah berjumpa denganku disini. Aku tidak akan melupakannya. 


Sebentar lagi aku akan pergi. Aku malam ini hanya bisa mengamati untuk kemudian pulang nanti kesini. Beberapa tahun lagi. Dengan senyum di pipi dan hamdalah di hati, ku ucapkan "sampai jumpa lagi". Ketika umurku puluhan dan tak lagi belasan.


Asrama pusat banath

Asrama 2, didekat jendela di bawah tangga.

Ditengah sunyi malam juga senyum sabit yang menggantung di atas sana.

15 Juli 2021

23.30 WIB


Komentar

Postingan Populer