Wali Autad

Mungkin Allah arahkan aku ke Sudan, salah satunya untuk bertemu wanita itu. Wanita yang menjadi support system. Penyemangat dalam menuntut ilmu.

Aku mengenalinya nyaris setahun lalu.

Awalnya aku hanya mengenalnya saat pertama kali bertemu, hanya berkenalan ringan dengannya yang begitu ceria dan hangat. Aku yang penasaran pun mencari tahu siapa dia. Oh, ternyata dia berasal dari satu organisasi yang aku sukai. Semakin lama, rasa penasaran itu lunas. Pada satu kesempatan, dia mengajakku mengobrol. Kami mengobrol tentang banyak hal. Aku bercerita tentang latar belakangku dan dia pun begitu. Aku terkagum-kagum sejak awal dia bercerita. Karena dia ternyata anak kesayangan ketua 'organisasi singa' itu.


Merasa cocok karena sepemikiran. Maka setelah idul adha, setelah aku hampir berada satu tahun di Sudan, kami mulai datang ke kajian bersama. Aku suka cara berpikirnya, semangat belajarnya, dan banyak hal positif yang ia tularkan. Hingga aku yang pada saat itu tengah patah hati akhirnya dapat berangsur pulih. 


Dia nyaris sempurna untuk ukuran wanita. Cantik, cerdas, pintar, baik, dan hatinya terpaut kepada Allah. Dia penyayang pada siapapun. Semua orang yang berada disekitarnya akan merasa kalau hanya mereka yang disayangi seperti itu. Padahal dia tidak membedakan sesiapa. Tapi jangan sekali-kali mencoba mengganggunya. Dia akan lantang bersuara. Dia wanita paling rasionalis yang pernah ku temui sepanjang hidupku. Berbicara dan bertanya padanya selalu mengembalikan semangat belajarku yang mulai redup. Entah energi dari mana yang dia dapat. Dia rajin membaca kitab-kitab turats, fasih berbahasa, dan selalu membawa tasbih mahal kesayangan itu.


Banyak orang yang suka dan banyak juga yang tidak menyukainya. Beberapa orang berbisik di telingaku agar tidak akrab dengannya. Entah apa yang mereka lihat dan dengar. Tapi semakin aku dekat, aku semakin melihat banyak hal baik. Yah, meskipun kita sebagai manusia lazim sekali memiliki kesalahan. Tapi aku, sebagai seorang pecinta akan terus menyayanginya meski menggenggam duri di kedua tanganku. Karena aku tahu apa yang ia tempuh. 

Dia menempuh jalan untuk menuju keridhoan Allah. Saat ku tanya, apakah kamu begitu semangat seperti ini karena ingin membanggakan babah (guru yang menjadi ayahnya) atau apa? Dia tertawa dan menjawab, "Itu tujuan yang rendah, Dek. Aku belajar untuk membanggakan Rasulullah." Aku tersenyum, semakin memantapkan hati untuk tidak melepaskan orang sepertinya. Wanita yang berbeda dari orang kebanyakan. Cita-cita nya menjadi wali. Meskipun itu kadang jadi bahan lelucon kami, aku yakin dia benar-benar menginginkan itu.


Aku selalu berdoa semoga Allah menjaga dan membersamainya. Aku ingin bertemu lagi nanti. Ketika semua yang kami impikan mulai terwujud satu persatu. Aku tidak sabar menantikan saat itu.


Komentar

Postingan Populer