Berperang, Jadi Kesatria

Dulu, seorang ulama muslim mesti berjuang betul saat mengembara ilmu. Mereka tiada beralas empuk pun bebantal enak untuk menaungi kepala. Bahkan beralas tikar pun tidak.

Sekarang, kamu punya kasur empuk, bantal besar, dan segala apapun agar tidurmu nyaman dan nyenyak.


Dulu, seorang penuntut ilmu makan seadanya, ikan basi, roti keras, kurma kering, hingga ada yang makan pun mereka lupa karena belajar saking asyiknya.

Sekarang, kamu kesana kemari wisata kuliner, makan ini itu, masak ini itu, sampai benar benar kenyang perutmu. Lantas potret sana sini, post.


Dulu, calon calon ulama belajar siang malam untuk ilmu. Susah payah mencari lembaran kertas untuk menulis. Susah payah mereka mencari transportasi. Naik unta ini, kuda ini. Berbulan bulan safar. Kadang demi sebuah hadits. Kadang demi jumpa seorang syaikh.   Siang berpanas panas berjalan menimba ilmu, malam pun, tetap menguatkan raga, tegak menyembah Allah. Sujud begitu lama. Meski lelah hari hari mereka.

Sekarang, kamu punya handphone, klik sana sini. Dari sekian banyak hal bermanfaat, kamu cuma ambil seru serunya saja. Scroll sana sini, lihat konten konten yang membuat cinta dunia bertambah.

Kendaraanpun serba mudah. Keluar uang sedikit, naik, beberapa menit kemudian, tiba pada tujuan. Tidak berbulan bulan bukan waktunya?


Dengan segala kemudahan,

kamu hari ini diuji dengan sebuah kemalasan.

Yang begitu mematikan.

Yang sering tak disadari.


Maka. 

Ayo, 

angkat panji jihad tinggi tinggi.

Katakan pada sanubari. 

Kamu mesti menang dalam pertempuran hawa nafsu ini!

*salam pejuang 


Komentar

Postingan Populer