Cinta Beda Ideologi

 Terlalu berat buat dibaca wkwk.


Adalah ideologi yang memisahkan. Yah, kisah ini bukan tentang saya. Tapi tentang 2 pasang anak Bani Adam yang kisahnya saya saksikan depan mata. 


Sebut saja si wanita ini En dan si pria An. Kita mulai dari si wanita. En berlatar belakang keras, dia besar dalam kelompok yang sering nampak dimata publik sebagai organisasi radikal. Sering ditampilkan ekstrimis di media. Saya sendiri menyaksikan pergerakannya, juga pernah bertemu beberapa tokoh pembesarnya. Bagi saya pribadi, mereka sama sekali tidak kasar dalam berprilaku. Mungkin karena pergesekan ideologi politik dengan organisasi lain, akhirnya penolakan dari yang lainnya membuat organisasi ini seolah-olah terpojok. Dan En adalah salah satu murid dari pembesar organisasi ini. Dia kemudian menjadi salah satu keluarga pembesarnya malah. Riwayat pendidikannya pun banyak ditempuh disana. Dia dilatih banyak hal. Hingga akhirnya dia menjadi wanita yang cantik, kuat, tangguh, berpendidikan dan tentunya lantang dalam bersuara. 


Beda En, Beda juga An.


An adalah seorang pria berusia matang yang sejak dulu bergelut di dunia pendidikan. Mendalami ilmu-ilmu agama hingga menguasai banyak hal. Intelektual, berpendidikan, ramah, supel dan tambahkan lagi tampan. Maka gadis mana yang tidak menyukainya. Dari perjalanan pendidikannya, akhirnya dia sering menjadi ketua di salah satu cabang organisasi yang sejak dulu dia ikuti. Organisasi ini tentulah kalian mengenalnya.


Secara ritual keagamaan memang keduanya banyak kesamaan. Tapi keduanya sedikit berbeda dalam segi politik dan peran dalam menyampaikan agama itu sendiri. Dan nahasnya, entah kenapa takdir mempertemukan mereka. Awalnya En yang selalu ingin belajar mendatangi An yang dikenal pandai untuk belajar lebih banyak. Tapi benarlah, bahwa cinta lahir karena keterbiasaan. Pertemuan yang tidak sekali dua kali, interaksi di dunia maya dan nyata -baik karena belajar dan lainnya- membuat mereka menyukai satu sama lain.  Mereka menjalani hubungan yang serius pada akhirnya. Entah berapa lama cinta itu bersemi. 


Dan cinta beda Ideologi itu berlanjut. 


En selalu menerima bagaimana pun, dari latar belakang, apapun dari An. Tapi An tidak sama. An memang mencintainya, tapi perbedaan ideologi itu menjadi benteng terbesar antara mereka. An menyukainya, tapi ratusan kali hati nya cinta dan takut, suka dan gemetar. Karena jelas orang-orang terdekatnya menentang latar belakang En. 


Berat hati An memutuskan untuk bicara pada En. Hingga akhirnya dia berani mengatakannya. 

" En, sebesar apapun perasaan padamu, aku tetap tidak bisa bersamamu nantinya. Dari pada cinta ini semakin menjadi, lebih baik kita cukupkan sampai disini. Aku tidak mau luka itu semakin besar jika lama dibiarkan. Aku minta maaf." ucap An. En yang biasanya lantang dan kritis sontak tidak bisa berkata-kata. 

"Juga pertemuan-pertemuan kita. Belajar atau apapun itu. Kita hentikan saja. Aku tidak sanggup bertemu denganmu. Aku benar-benar minta maaf". lanjut An.

En hanya sepatah kata menjawab "baiklah". Dan segera pergi dari hadapannya.


Dan kisah itu pupus menyisakan banyak luka di hati En. Itu sudah lama sekali. Aku tidak menyaksikan kejadian-kejadian itu. Tapi aku melihat sendiri bagaimana mereka hampir bertabrakan di pintu sana. Untungnya En menyadarinya dan segera mundur beberapa langkah. Sesak sekali melihatnya.


Entahlah kenapa rumit sekali. 

Aku menulis kisah ini karena aku tahu, orang-orang ini tidak akan pernah membacanya. Cepat sekali jemariku menintakannya. Menulis dengan rasa yang membara memang berbeda.

Cinta beda ideologi, sepertinya aku juga akan menjalani.

Khartoum, 19/9/22.

Di siang terang benderang.

Komentar

Postingan Populer