Ponpes Lantabur, 2019

September 2019

Saat itu aku baru kelas 1 Aliyah. Setelah berhari-hari kami berjibaku dengan piket besar,  akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Seorang tamu dari negeri Sudan datang untuk mengunjungi kami. Usianya ku taksir 50 tahunan. 


Kami menyambutnya dengan penuh semangat. Saat mobil yang dinaikinya melintas, kami melantunkan "Thalaal Badru Alaina" di pinggir jalan utama pondok dengan melambaikan bendera bendera kecil yang ada di tangan. Bendera Indonesia dan Sudan. Pamflet terpasang di jalan utama. Tertulis ucapan selamat datang dalam bahasa arab. Ahlan wa Sahlan wa marhaban. 


Hari itu beberapa santriwati senior ditugaskan untuk menyiapkan keperluan Syekh di rumah yang beliau tempati. Aku juga ikut membantu. Kami membuatkan teh dan melakukan banyak hal. Kami cukup sibuk saat itu. Saat giliranku menghidangkan teh, saat itu pula kyai ku datang dengan beberapa santri senior. Aku benar-benar kikuk dan gugup bahkan hanya sekedar menyajikan teh dan cemilan. Saat aku berbalik hendak menuju dapur, kyai memanggil. Aku duduk di ambang pintu. 


"Syaikh mau bicara". Ucap kyai ku sembari tersenyum. Aku mengangguk dan duduk.


"Siapa namamu?" Tanya Syeikh padaku dengan bahasa arab.


Aku menjawab, "Ade Hanifa" sembari menunduk. Melihat takut-takut.


"Hafalanmu berapa juz?" tanya nya lagi.


"Baru 5 juz Syaikh". Jawabku. Aku saat itu sudah menuntaskan hafalan. Namun baru menyetorkan ulang kepada kyai 5 juz awal. 

"Masyaallah" ucapnya.


Kemudian syeikh bertanya lagi dengan bahasa arab yang tidak ku mengerti karena keterbatasan bahasaku.

"Syeikh bertanya kepadamu, apakah kamu mau belajar ke Sudan". Terang kyai. Aku hanya mengangguk-angguk. Kyai ku tertawa, lalu mempersilahkanku meninggalkan tempat. 


Jujur saja aku tidak tertarik. Bahkan Sudan saja aku baru dengar namanya. Karena saat itu negeri incaranku adalah Al-Azhar Kairo, Mesir. Tempat kyai ku belajar dulu. Apalagi kata teman-temanku, kalau ke Sudan nanti kulit jadi hitam. Betulkah? Entahlah.


Komentar

Postingan Populer